Gelap.... Alun alun Batu, Apa Tidak Faham Disain Dan Penempatan Cahaya Lampu ?
![]() |
Batu, News Corner Kota, 29/01/2026
Malam
sudah menunjuk pukul 22.17 WIB, sebentar lagi jam 11 malam. Alun alun
kota Batu masih terlihat ramai. Orang-orang bergerombol dan lalu-lalang
di beberapa titik alun-alun. Beberapa pasang muda mudi tampak asyik
bercengkerama di tengah kegelapan. Sesekali terdengar suara cekikikan
atau wajah salah satu pasangan yang terlihat moncong mulutnya mendekat
ke pasangannya, disertai gairah rasa bergejolak di dalam dada dan nafas
yang memburu. Hanya duduk-duduk saja, di tengah temaram alun-alun Kota.
Kawasan
Pasar senggol, penuh beragam pilihan makanan, ada di samping alun alun,
masih ramai pedagang menjajakan pilihan makanan nikmat, belum ada yang
tutup. Pasar malam alun alun Kota Batu ini mengasyikkan.
Ada
penjual ketan, susu sapi, ice cream. Ada pula penjual seafood, dan
tikus kecil putih yang dikerubuti para calon pembeli. Bukan tikus,
mungkin hamsters. Sulit bagi yang awam membedakan tikus putih dan
hamster. Beberapa artis kota alun-alun berdandan ala kuntilanak, atau
hantu kota yang menyeramkan, sekaligus menggelikan
Persewaan kuda
di pojok alun alun, tiba-tiba mendapat rezeki dari Ali (bukan nama
sebenarnya), atlet Pordasi Berkuda Sidoarjo yang saat itu sedang beserta
sejumlah atlit kawakan berkuda Provinsi berjalan-jalan di alun-alun
kota.
Persewaan
Kuda di sekitar alun alun Kota Batu ini, memang bisa digunakan oleh
siapa saja. Biasanya oleh anak-anak kecil, yang tertarik ingin tahu
rasanya naik kuda. Hanya membayar beberapa ribu rupiah saja sudah bisa
menikmati naik kuda di alun-alun Kota.
Tapi
Ali berbeda, atlet kuda berprestasi Jawa TImur itu, naik kuda dari
pojok alun-alun, lalu memacunya seperti seorang atlet profesional
menunggang kuda. Ali memang atlet berkuda, akan tetapi kelas unggulan
nya, adalah kuda tunggang serasi, kelas lomba kuda yang cukup bergengsi.
Bukan sekedar atlet balap kuda.
" Mumpung ada kuda, ini kesempatan berlatih..." kata Ali. Menggelikan, berlatih tunggang serasi di alun-alun kota Batu.
" Lagi pingin berlatih saya.... heheheh ..." kata Ali bercanda.
Akan tetapi, tak banyak orang, yang melihat gaya Ali mengendalikan kuda yang seru.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 22 an malam lebih. Tak ada orang yang tertarik melihat, sejumlah pengunjung alun-alun terlihat mengantuk. Tempat duduk di alun-alun juga terlihat digunakan tidur-tiduran oleh sejumlah pengunjung, mungkin mereka sedang mengantuk berat.
Gaya Ali menunggang kuda tak terlalu terlihat jelas, karena memang lampu lampu malam, di alun alun Kota Batu ini, entah kenapa, malam ini seperti padam saja. Meski banyak jumlah lampu alun-alun nya, tapi tidak membuat suasana alun-alun Kota batu menjadi terang. Malah bisa dikatakan gelap gulita, remang-remang.
Ada
sekian banyak lampu yang dipasang, akan tetapi anehnya, alun-alun kota
Batu malah seperti tempat yang aneh. Gelap, remang-remang, kurang sekali
pencahayaan lampu di Pusat kota wisata baru itu.
***
Malam semakin larut. Akan tetapi sejumlah lampu yang disebar di sekitar alun-alun Kota Batu gagal memberikan pencahayaan yang cukup. Beberapa lokasi memang cukup mendapatkan cahaya terang, seperti lokasi pasar senggol. Lokasi penjualan makanan ini sudah mendapatkan pencahayaan yang cukup.
Akan tetapi tidak semua lokasi alun-alun mendapatkan pencahayaan yang cukup. Alhasil alun-alun yang seharusnya bisa memberikan nilai tambah estetika kota Batu itu tampak lebih muram, temaram atau remang-remang.
Atau
mungkin karena sudah cukup malam, mendekati jam 11 malam, jadi beberapa
fasilitas lampu pun dimatikan ? Akan tetapi aktivitas di alun-alun
masih terlihat ramai. Mematikan lampu di saat masih banyak aktivitas,
juga tidak tepat dilakukan, jika hal itu memang dilakukan.
Duduk
di salah satu sisi alun alun kota Batu memang terasa tenang, akan
tetapi jika tanpa cahaya lampu yang cukup terang, maka ketenangan itu
pun hilang dalam kegelapan dan cahaya remamg-remang kota.
Apakah
tidak ada ahli tata kota yang memahami bagaimana perencanaan
pencahayaan di alun-alun kota Batu ? Tanpa cahaya yang cukup, alun-alun
hanya menjadi sebuah lokasi yang gagal menampilkan nilai estetika kota.
Padahal alun-alun adalah salah satu jantung penting bagi sebuah kota.
Kota
Batu adalah kota potensial untuk wisata lokal dan bahkan internasional.
Jika alun-alun kotanya saja, tidak mampu dikelola tata pencahayaan
lampunya, bagaimana selanjutnya masa depan, perkembangan kota wisata
ini.
Kota
batu sudah menjadi Kota otonom selama 25 Tahunan. Tahun 17 Oktober
tahun 2026 ini, Kota Batu, akan resmi menjadi kota otonom yang berusia
25 tahun, sejak berpisah dari Kota Malang. Penetapan saat berpisah
dengan Kota Malang ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2001, yang menjadikan Batu sebagai kota mandiri di Jawa Timur.
Sebelumnya, Kota Batu masih berstatus sebagai kota administratif sejak 6
Maret 1993.
Sebagai sebuah kota mandiri, Kota Batu perlu
berbenah. Bukan saja pada layanan-layanan wisata yang ada di Kota Batu,
akan tetapi pada penataan pencahayaan alun-alun kota terlebih dahulu.
Bukankah akan sangat tidak menarik, jika para wisatawan, tidak mampu
merekam keindahan kota Batu, hanya karena citra gelap dan remang-remang
alun-alun kota Batu. Seakan menjadi sebuah tanda kegelapan dan
keremang-remangan yang membayangi kota Batu.
Contoh Pencahayaan Yang Sempurna, Hilang Unsur Gelap dan Remang-Remangnya
"Mafia tanah..."
"Perubahan lahan hijau "
"Isu tenaga penyerapan tenaga kerja lokal yang tinggi.."
"Korupsi, money politik, jual beli jabatan..."
"Tidak ada sentuhan pendidikan tinggi ..."
"sarang maksiat terselubung..."
Potensi
kegelapan yang tercium menyelimuti di beberapa titik lokasi Kota Batu
ini, bisa segera diatasi, dengan pertama kali, memberikan penerangan
yang cukup di alun-alun Kota Batu. Jangan biarkan kota Batu tenggelam
dalam kegelapan di waktu malam, dimulai dari alun-alun kota nya terlebih
dahulu. Jika ini segera dibenahi, maka perlahan-lahan cara memandang
sebuah fenomena gelap kota akan berubah, seiring bertambah terangnya
alun-alun kota Batu.
Tidak sulit membuat terang alun-alun.
Tinggal dihitung berapa lumen cahaya yang dibutuhkan agar alun-alun
tampil menjadi terang benderang.
Pencahayaan Ideal Pedestrian, Lihat tidak ada unsur gelap dan remang-remang sama sekali
Jika tidak bisa menghitung dalam proses disain, mungkin Pemerintah Kota perlu turun beberapa kilometer ke bawah ke Kota Malang, untuk menggandeng ahli tata pencahayaan alun-alun dari Universitas Brawijaya, atau Universitas Negeri Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas MUhamadiyah, ITN, Universitas Gajayana, Universitas Merdeka, ada 60 an Perguruan Tinggi di Kota Malang.
Jika tidak mampu memecahkan masalah pencahayaan kota ini, tanyakan saja, kepada salah satu ahli dari Perguruan tinggi yang ada. Salah satu Perguruan Tinggi saja sudah cukup. Pasti segera beres pencahayaan alun-alun Kota Batu. Begitu saja kok repot (MIG)










